Air Mata Sri Tarigan Korban Pengungsi Gunung Sinabung

Filed under: Essai |

Oktyana pun berurai air mata kesedihan, mengesampingkan separuh jiwanya yang juga tengah sakit, namun memilih berempati terhadap isak Sri Tarigan. Salah seorang wanita dari sekian wanita lain,  dari yang muda hingga jompo, ini kembali meratapi nasibnya. Sinabung yang dulu ayu, kemilau dengan puncak ketinggian yang menghijau, kini sudah tak bersahabat lagi, sekalipun hanya untuk sejenak menatapnya dari kejauhan. Muntahan lava, abu vulkanik yang membumbung, menyisakan sesak dan kengerian yang tidak kepalang. Tadi pagi, Sinabung menggelegar kembali dengan goncangan yang paling besar sejak empat hari yang lalu. Dan Sri Tarigan benar benar menangis pilu. Ntah kemana lagi ia harus menitipkan tubuhnya yang lelah. Ia kembali ke rumahnya namun tidak bisa berlama lama setelah gelegar Sinabung kembali mengguncangkan bumi yang ia pijak. Berpindah dari satu tempat pengungsian ke tempat pengungsian lainnya. Lelah sudah. Ntah apalagi yang harus dilakukan Sri.